Pameran Kolektif Udhar Banda Karma Digelar Di Santrian Art Gallery Sanur

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Ketua Himpunan Perupa Payangan, I Made Dolar Astawa kepada sejumlah media di Santrian Art Gallery Sanur mengatakan, pameran kolektif Himpunan Perupa Payangan yang bertajuk Udhar Banda Karma ini dapat terwujud dan terselenggara dengan baik di Santrian Art Gallery Sanur, perjalanan pameran ini adalah salah satu tonggak sejarah terpenting bagi komunitas kami yang sebelumnya digelar di Ubud, fokus menyalakan energi intemal lewat flosofi Bayu Idep Karma, maka di Sanur kami memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh.

“Kami mencoba melakukan laku Udhar Banda Karma sebuah upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa yang lebih terbuka. Di ruang pameran ini, tersaji 38 karya yang merangkum meberagaman karakter, mulai dari lukisan yang setia menjaga nyala api tradisi, perkawiran estetika modern, pelepasan menuju dunia abstrak, hingga dinamika seni patung yang bergerak dinamis,” kata I Made Dolar Astawa.

I Made Dolar Astawa menjelaskan, keberagaman ini adalah kekuatan sebagai sebuah keluarga besar mewakali seluruh anggota Himpunan Perupa Payangan, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Bupati Gianyar yang telah berkenan memberikan dukungan moril dan membuka pameran ini dan mrmberikan apresiasi kepada seluruh panitia, kurator dan perupa yang telah menumpahkan dedikasinya,” pungkas I Made Dolar Astawa.

Owner Santrian Gallery, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA mengatakan, sebuah kehormatan besar bagi Santrian Art Gallery dapat menjadi ruang presentasi bagi pameran kolektif Himpunan Perupa Payangan yang mengusung tema ‘Udhar Banda Karma’ Sanur dan Payangan mungkin dipisahkan oleh jarak geografis antara pegunungan yang sejuk dan pesisir yang dinamis. Namun, melalui seni rupa, kita menyaksikan pertemuan yang indah antara dua karakter kultural tersebut. Sanur yang sejak awal abad ke-20 telah menjadi ruang hibriditas dan keterbukaan seni rupa modern, kini menjadi saksi bagaimana рага perupa Payangan melakukan laku udhar mengurai, melonggarkan, dan membebaskan kreativitas mereka dari keterikatan pakem tradisional.

“Pameran ini bukan sekadar pajangan karya lukis dan patung, melainkan sebuah dialog kritis yang matang, Himpunan Perupa Rayangan menunjukkan kepada kita bahwa merawat tradisi bukan berarti memenjarakan diri, melainkan membiarkannya tumbuh, bertransformasi, dan relevan dengan zaman,” kata Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn mengatakan, Himpunan Perupa Payangan disibukkan dengan laku ke dalam menyalakan Tri Sakti lewat filosofi Bayu Idep Karma yakni energi pikiran kreativitas, maka pameran di Santrian Art Gallery Sanur, adalah sebuah lompatan keluar yang berani. Perjalanan dari pedalaman Payangan yang sejuk menuju pesisir Sanur bukan sekadar perpindahan geografis dari Kabupaten Gianyar ke Kota Denpasar, ini adalah sebuah perpindahan epistemik sebah ziarah kultural dari pusat pakem tradisi menuju ruang dialog seni rupa global yang lebih cair.

“Sanur secara historis adalah ruang hibriditas, tempat di mana seniman Barat dan Timur saling meminjam estetika, melonggarkan kekangan dan merumuskan ulang apa yang disebut sebagai seni modern Bali. Di ruang bengengsi Griya Santrian inilah, Himpunan Perupa Rayangan kini datang bukan untuk sekadar memamerkan kemahiran teknis, melainkan untuk melakukan laku spiritual dan artistik yang baru Udhar Banda Karma,” kata Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menjelaskan, secara etimologis dalam bahasa Jawa Kuno, Udhar berarti mengurai atau melepas ikatan, Banda adalah belenggu atau kekangan, dan Karma adalah perbuatan atau hal dari tindakan masa lalu. Dalam konteks pameran ini, frasa tersebut bertransformasi menjadi sebuah manifesto kuratorial yang radikal. Bagi para perupa Payangan yang tumbuh dalam ekosistern lukisan tradisional Bali, tradisi adalah Karma, sebuah warisan estetika mulia yang membentuk identitas kolektif mereka, namun tradisi yang diadopsi secara mentah tanpa pemaknaan baru terancam menjadi banda atau belenggu yang memenjara subjektivitas seniman.

“Filsuf dan kritikus budaya asal Italia, Giorgio Agamben dalam esainya What is the Contemporary pernah menyatakan hal yang sangat relevan dengan situasi ini yakni orang yang benar – benar komtemporer adalah mereka yang tidak secara sempurna larut dalam zamannya, melainkan mereka yang mampu mengambil jarak denga gannya. “Melalui pameran ini, Himpunan Perupa Rayangan sedang mengambil jarak tersebut mereka tidak sedang membuang atau mengkhianati akar lukisan tradisional Bali yang berbasis pada cerita religius dan detail yang magis sebaliknya, mereka melakukan udhar melonggarkan Ikatan pakem tersebut agar kanvas – kanvas mereka memiliki ruang bernapas bagi eksperimen baru, mereka sedang membebaskan diri dari belenggu ekspektasi pasar komoditas yang sering kali menuntut seni Bali untuk selalu tampil statis dan eksotis,” jelas Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menjelaskan, di dinding dan ruang pamer Santrian Art Gallery penonton tidak akan menghadapi sebuah narasi yang seragam, melainkan disuguhi oleh bentangan spektrum visual yang sangat kaya proses Udhar Banda Karma termanifestasi secara nyata melalui tipologi kreativitas para anggotanya yang bergerak dinamis.

“Penonton akan mendapati karya – karya yang secara visual masih sangat kental memegang estetika klasik Payangan namun, jika dicermati lebih dalam, pemikiran mereka telah terbuka dan mereka tidak lagi melukis sekadar sebagai repetisi mekanis atas perintah pasar turistik dan tradisi di tangan mereka dipertahankan sebagai pilihan sadar untuk menjaga presisi teknik, ketekunan garis dan kedalaman spiritualitas taksu pedalaman,” kata Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menyatakan, hadir juga karya – karya hibrida yang secara berani mengawinkan dua kutub zaman. Disini, karakter pewayangan atau lanskap ritus Bali tidak lagi dikurung dalam ruang dua dimensi yang padat atau horror vacui, mereka mulai berdialog dengan teori komposisi Barat, permainan perspektif baru dan sapuan kuas yang lebih ekspresit, ini adalah wilayah transisi dimana belenggu pakem mulai dilonggarkan demi mencapai relevansi zaman.

Lanjut Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn memaparkan, Laku Udhar atau pelesapan mencapai puncaknya pada karya – karya yang telah sepenuhnya menapakkan kaki di wilayah abstraksi, bentuk – bentuk figuratif khas lukisan Bali telah lebur, menyisakan esensi emosi, getaran warna dan tekstur.

“Bagi kelompok karakter ini, membebaskan diri dari belenggu tidak berarti melupakan akar, melainkan menerjemahkan spiritualitas Bali yang semula berwujud sekala menjadi energi murni yang tak berwujud niskala,” jelas Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menyatakan, manifestasi pelepasan ini tidak hanya berhenti di atas permukaan datar kanvas, seni patung dalam Hampunan Perupa Payangan menjadi jangkar visual tiga dimensi yang sangat vital di ruang pameran, pengunjung akan menyaksikan bagaimana para pematung memperlakukan kayu dan batu tidak lagi melulu untuk melayani figur – figur mitologis yang kaku. Sebagian dari mereka hadir dengan karya patung semi tradisi yang menyisakan anatomi klasik namun distilasi secara dinamis.

“Sementara sebagian lainnya telah melangkah jauh menapak pada modernisme, dimana material ditekuk, dilubangi, dan didekonstruksi untuk menangkap esensi ruang, volume dan kegelisahan manusia modern. Seni patung mereka adalah wujud fisik dari bayu atau energi yang berhasil menjebol batas – batas tradisi materi,” urai Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menjelaskan, pameran ini adalah sebuah proklamasi bahwa Himpunan Perupa Payangan telah matang secara kolektif. Mereka tidak lagi sekadar komunitas perupa daerah, melainkan sebuah entitas seni yang sadar akan posisinya di medan seni rupa yang lebih luas.

“Kita layak merenungkan pandangan teoretikus estetika kenamaan, Ananda Coomaraswamy yang menyatakan bahwa seni sejati adalah jembatan antara yang suci atau sacred dan yang profan. Laku Udhar Banda Karma yang diusung oleh komunitas ini adalah upaya untuk menjaga agar kesucian tradisi ini tetap hidup justru dengan cara membiarkannya berinteraksi dengan dunia yang profan, terbuka dan masa depan yang tak terbatas,” pungkas Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Sambutan Bupati Gianyar, Made Agus Mahayastra, SST.Par., MAP yang dibacakan Wakil Bupati Gianyar, A. A Gede Mayun, SH mengatakan, pihaknya menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi – tingginya atas terselenggaranya Pameran Seni Rupa Himpunan Perupa Payungan yang bertajuk Udhar Banda Karma di Santrian Art Gallery, Sanur. Payangan secara historis adalah wilayah yang subur, tidak hanya alamnya tetapi jaga kreativitas masyarakatnya, selama ini para perupa Payangan telah menjadi penjaga gawang kebudayaan Gianyar yang kokoh melalui dedikasi mereka pada seni lukis dan seni patung tradisional.

Lanjut A. A Gede Mayun, SH menyatakan, langkah Himpunan Perupa Payangan untuk melompat keluar melintasi batas geografis Gianyar menuju pesisir Sanur melalui tema Udhar Banda Karma adalah sebuah keputusan yang berani dan visioner, ini adalah bukti nyata bahwa seniman kita tidak pernah statis.

A. A Gede Mayun, SH menjelaskan, mereka mampu mengurai belengu pakem tanpa kehilangan jati diri, serta siap mendialogkan capaian estetiknya di panggung yang lebih luas. “Pemerintah Kabupaten Gianyar selalu mendukung inisiasi kolektif yang menghidupkan ekosistem seni rupa kita, semoga pameran ini menjadi pemantik inspirasi bagi generasi muda memperkuat jejaring seni rupa Bali, dan membawa berkah serta karma baik,” pungkas A. A Gede Mayun, SH.

Peserta pameran Himpunan Perupa Payangan adalah I Made Dolar Astawa, I Made Suparta, I Nyoman Suandi, I Ketut Arka, I Gede Susilayasa (De Sila), I Nyoman Suardina, I Ketut Sunama, I Wayan Badra, I Gusti Putu Dyatmika, I Made Ariasa, I Made Jongko, Ngakan Ketut Suarbawa, Ngakan Made Sudarsana, I Komang Sudiarta a.k.a Loster, I Made Jendra, I Wayan Putrayasa, I Nyoman Sumendra, I Wayan Merta. @ (RED/NU)

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *