Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn : Gajah Mina Wahana Dewa Baruna

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Patung Gajah Mina terlahir dari akar kayu jati pilihan, diolah mengikuti alur serat dan rongga alaminya hingga muncullah sosok Gajah Mina makhluk mitologi berkepala gajah berekor ikan.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn pria kelahiran Banjar Semaon, Puhu, Payangan, Gianyar ini mengatakan, dalam kepercayaan Hindu, Gajah Mina adalah wahana Dewa Baruna sebagai penguasa lautan. Teknik
tradisional berpadu dengan karakter material, yang bagian keras untuk cangkang, bagian lunak untuk sirip dengan ukiran khas tradisional Bali memperkuat aura sakral.

“Finishing dilakukan secara natural hanya polesan bening yang mempertegas serar asli dan pori – pori kayu, menjaga kehangatan organik akar jati menyatu dengan sentuhan tangan, tentunya komposisi ini menghadirkan keagungan, mengingatkan bahwa alam dan spiritual adalah satu kesatuan,” jelas Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn mengatakan, Gajah Mina adalah makhluk mitologi berupa gabungan badan ikan dan kepala gajah yang dipercayai dalam tradisi Hindu serta legenda pesisir nusantara, masyarakat nelayan menganggapnya sebagai makhluk laut dalam yang langka.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menjelaskan, dalam kepercayaan Hindu Bali, Gajah Mina disimbolkan sebagai kekuatan maha dahsyat dari penguasa lautan, yaitu Dewa Baruna yang menggabungkan sifat hewan darat paling bijaksana yaitu gajah dan penguasa air yaitu ikan besar.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn bersama Wartawan LintasCakrawalaNews Biro Bali

Bentuk gajah mina sering dipahatkan pada bangunan suci atau pura seperti hiasan kekarangan arsitektur Bali, serta tercantum dalam naskah kuno seperti Lontar Yama Tattwa digunakan sebagai bentuk petulangan atau wadah jenazah saat upacara Ngaben oleh golongan tertentu.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menyatakan, hadir juga karya – karya hibrida yang secara berani mengawinkan dua kutub zaman. Disini, karakter pewayangan atau lanskap ritus Bali tidak lagi dikurung dalam ruang dua dimensi yang padat atau horror vacui, mereka mulai berdialog dengan teori komposisi Barat, permainan perspektif baru dan sapuan kuas yang lebih ekspresit, ini adalah wilayah transisi dimana belenggu pakem mulai dilonggarkan demi mencapai relevansi zaman.

Lanjut Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn memaparkan, Laku Udhar atau pelesapan mencapai puncaknya pada karya – karya yang telah sepenuhnya menapakkan kaki di wilayah abstraksi, bentuk – bentuk figuratif khas lukisan Bali telah lebur, menyisakan esensi emosi, getaran warna dan tekstur.

“Bagi kelompok karakter ini, membebaskan diri dari belenggu tidak berarti melupakan akar, melainkan menerjemahkan spiritualitas Bali yang semula berwujud sekala menjadi energi murni yang tak berwujud niskala,” jelas Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.

Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn menyatakan, manifestasi pelepasan ini tidak hanya berhenti di atas permukaan datar kanvas, seni patung dalam Hampunan Perupa Payangan menjadi jangkar visual tiga dimensi yang sangat vital di ruang pameran, pengunjung akan menyaksikan bagaimana para pematung memperlakukan kayu dan batu tidak lagi melulu untuk melayani figur – figur mitologis yang kaku. Sebagian dari mereka hadir dengan karya patung semi tradisi yang menyisakan anatomi klasik namun distilasi secara dinamis.

“Sementara sebagian lainnya telah melangkah jauh menapak pada modernisme, dimana material ditekuk, dilubangi, dan didekonstruksi untuk menangkap esensi ruang, volume dan kegelisahan manusia modern. Seni patung mereka adalah wujud fisik dari bayu atau energi yang berhasil menjebol batas – batas tradisi materi,” urai Dr. I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn. @ (RED/NU)

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *