Mangku Nyoman Yasa : Melukat Bertujuan Untuk Membersihkan Diri Secara Niskala Dari Energi Negatif Dan Pengaruh Buruk

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Dalam ajaran Hindu Bali, upacara pembersihan diri setelah sembuh dari sakit yaitu melakukan melukat yang bertujuan untuk membersihkan diri secara niskala dari energi negatif dan pengaruh buruk yang mungkin melekat selama sakit, baik yang disebabkan oleh pikiran negatif. Melukat setelah sembuh dari sakit disebut melukat gni ngelayang yang dilakukan di beberapa tempat yakni di pura, sumber mata air, sungai, danau dan laut. Melukat melakukan permohonan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan menggunakan sarana air suci, yang diyakini memiliki fungsi khusus untuk membuhkan penyakit non medis.

Mangku Nyoman Yasa pria kelahiran Banjar/Pauman Beji, Desa Adat Timbrah, Desa Pretima, Karangasem, Bali kepada LintasCakrawalaNews mengatakan, penglukatan geni ngelayang bertujuan untuk pengobatan kepada orang yang sedang sakit agar segera sembuh yang dilaksanakan oleh jero balian usada. Sesuai dengan lontar Putusan Kala Geni Candra Bhairawa tertulis “iki keputusan kala geni candra bhairawa garan pangesengin ring sarana jempere samsam genep andong bang santun majinah 2800”.

Mangku Nyoman Yasa mengatakan, penglukatan gomana bertujuan untuk penebusan oton atau hari kelahiran akibat pengaruh buruk dari wewaran, wuku, sapta wara dan panca wara. Penglukatan samara beda bertujuan untuk menyucikan sang kama jaya dan sang kama ratih dari segala noda dan mala terutama pada upacara perkawinan.

“Sesuai kepercayaan umat Hindu dalam panca srada, atman merupakan bagian dari Ida Sanghyang Widhi Wasa yang suci atau Brahman yang menjiwai tubuh manusia perlu disucikan dan dipelihara dengan baik agar atman tetap langgeng dalam tubuh, sehingga manusia dapat berkarma membayar hutang atau dosa,” kata Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa mengatakan, sesuai Lontar Dharma Kauripan manusia sejak dalam kandungan sampai menjelang ajal dipelihara dan disucikan dengan upacara penyucian yang disebut penglukatan. Beberapa jenis penglukatan, yaitu penglukatan asta pungku, penglukatan geni ngelayang, penglukatan gomana, penglukatan surya gomana, penglukatan semara beda, penglukatan prabhu wibuh dan nawa ratna serta penglukatan sudamala.

“Dalam Lontar Asta Pungku tertulis, Betara Siwa yang menyebabkan semua pengaruh kelahiran pada wuku mala, seperti ketadah kala, sungsang carik, ketitibaya, kekarmabaya, kebanda, kebandanin. Yang ngelukat adalah Betara Siwa, seperti yang tertulis pada lontar Bhuana Kosa Tiga, sloka 80 menyebutkan alam semesta beserta isinya berasal dari Betara Siwa, hancurnya alam juga berasal dari Betara Siwa,” jelas Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa menyatakan, peran dirinya dalam konteks pasien yang sembuh dari sakit adalah membantu dalam proses pembersihan diri pasien secara spiritual untuk menghilangkan penyebab penyakit, terutama yang bersifat penyakit niskala atau penyakit non medis. “Jadi peran dirinya dalam upacara melukat, ngelukat pasien yang baru sembuh dari sakit yaitu membersihkan secara niskala energi negatif, pengaruh magis, gangguan spiritual atau leteh yang diyakini menjadi akar penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis,” kata Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa menjelaskan, dirinya menggunakan air suci/tirta yang sudah diberikan mantra khusus dalam upacara ngelukat. Air suci/tirta ini dapat menyerap energi negatif dan mengembalikan keseimbangan energi dalam tubuh pasien yang baru sembuh dari sakit, setelah pasien sembuh dari sakit melukat berfungsi untuk menyelaraskan kembali hubungan pasien dengan alam semesta dan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

“Dirinya memberikan bimbingan, nasihat spiritual, berdoa selama prosesi ngelukat pasien untuk mohon restu dan perlindungan dari leluhur dan Ida Sanghyang Widhi Wasa,” pungkas Mangku Nyoman Yasa. @ (RED/NU)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *