Mangku Nyoman Yasa : Ilmu Leak Jaman Dahulu Digunakan Oleh Raja Untuk Melindungi Diri Dari Serangan Musuh

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Leak selama ini didefinisikan sebagai sosok menyeramkan dan mengerikan, ilmu mistik yang bersifat merusak dan menyakiti, padahal penilaian tersebut tidak sepenuhnya benar, karena masih banyak hal positif dari ilmu pangeleakan pada dasarnya, ilmu apapun di dunia bersifat netral, tergantung manusia yang menggunakannya.

Mangku Nyoman Yasa pria kelahiran Banjar/Pauman Beji, Desa Adat Timbrah, Desa Pretima, Karangasem, Bali kepada LintasCakrawalaNews mengatakan, sesungguhnya ilmu leak merupakan ilmu spiritual yang memungkinkan pengamalnya mengubah wujud, mulai dari menjadi rangda, celukuk, kambing berkaki tiga, monyet hingga hewan lainnya. Secara spiritual, ilmu ini diyakini dapat membuka batasan diri dan mengubah identitas, namun di masyarakat pada umum, leak sering dianggap sebagai ilmu hitam yang jahat dan menakutkan karena praktik supranatural yang mengerikan, sesungguhnya hal tersebut tidak benar.

Mangku Nyoman Yasa menjelaskan, ilmu leak dapat diartikan sebagai jalan spiritual untuk mengatasi batasan diri dan mencapai pencerahan, jaman dahulu ilmu ini digunakan oleh raja untuk melindungi diri dari serangan musuh. Saat ini masyarakat sering mengaitkan leak dengan ilmu hitam seperti santet, pelet, pengasih yang digunakan untuk menyerang atau menyakiti orang, tentunya hal tersebut tidak benar, ilmu ini bisa membantu menyembuhkan orang sakit dari serangan ilmu hitam atau black magic bukan ilmu leak atau leyak.

Lebih lanjut Mangku Nyoman Yasa menjelaskan, leyak atau leak artinya L artinya luwih atau pintar, Y artinya wiyakti atau seken atau benar, K artinya kesidian atau kemampuan. Nah, kesidian atau kemampuan inilah kita gunakan untuk membantu orang yang benar – benar membutuhkan pertolongan dengan hati yang tulus ikhlas tanpa pamrih.

“Bukannya menyakiti orang yang sudah sakit, tetapi menolong menyembuhkan orang sakit dengan hati yang tulus ikhlas tanpa pamrih, bila ada orang yang kena ilmu hitam atau ilmu black magic dirinya siap membantu menolong dengan mendoakan kepada sang pencipta, dirinya hanya perantara manusia dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa menolong tanpa pamrih,” tegas Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa menyatakan, mitos leak atau leyak dipercaya masyarakat di Bali berasal dari cerita abad kesebelas tentang seorang janda yang bernama calonarang memiliki ilmu hitam, kemampuan seseorang untuk melihat leak tentunya orang yang memiliki kepekaan mata batin yang dapat melihat leak pada waktu – waktu tertentu, terutama di hari sandikala atau pergantian waktu dari sore hari menjelang malam.

Mangku Nyoman Yasa mengatakan, sejatinya ilmu pengetahuan apapun yang ada di dunia ini bersifat netral, justru yang menjadikan terlihat buruk atau baik, positif atau negatif adalah manusianya, seperti pisau jika digunakan untuk memotong makanan, maka kita bisa makan sedangkan jika pisau digunakan untuk berbuat salah, tentu pandangan orang akan menjadi negatif.

“Rwa Bhineda atau dua hal yang berbeda dan bertentangan tetapi tidak bisa dipisahkan, akan selalu ada di dunia oleh karena itu, pemanfaatan ilmu yang sudah dikuasai tergantung pada manusianya itu sendiri,” kata Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa menjelaskan, ngeleak merupakan ajaran tantra yoga yang sudah berkembang sejak zaman kerajaan Kediri, kemudian dinarasikan dalam bentuk cerita Calonarang. LiAk artinya Linggihang Aksara, Linggih artinya mendudukkan atau menempatkan, Ak artinya aksara yang artinya menempatkan aksara suci ke dalam tubuh manusia. Ilmu Leak dilihat sifatnya dikelompokkan menjadi tiga yaitu satwika yang artinya baik, rajasika artinya ego, tamasika artinya buruk.

“Ada beberapa lontar terkait dengan pengleakan baik dari segi filsafat yang menjelaskan tipe ilmu leak diantaranya penengen, pengiwa dan kamoksan. Ilmu penengen adalah ilmu yang diarahkan untuk kebaikan digunakan jero balian untuk mengobati membantu orang sakit, hubungan yang renggang kembali menjadi harmonis dan penyakit akibat ilmu hitam lainnya,” jelas Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa menjelaskan, pengiwa adalah ilmu yang bersifat menyakiti, ilmu leak ini yang populer di Bali sehingga masyarakat berpandangan negatif terhadap ilmu leak karena manusia yang mempelajari ilmu leak masih memiliki ego yang tinggi, sehingga ilmunya digunakan untuk melampiaskan emosi, dendam, kebencian dan iri hati ilmu pengiwa ini bersifat tamasika.

“Kamoksan atau ilmu kelepasan yakni moksa dalam ajaran agama Hindu adalah tujuan hidup terakhir yaitu kebebasan dari ikatan duniawi, sehingga ilmu leak terdiri dari ilmu kawiwesan yaitu penengen dan pengiwa untuk duniawi, serta ilmu kelepasan untuk lepas dari ikatan duniawi,” urai Mangku Nyoman Yasa.

Mangku Nyoman Yasa mengatakan, untuk menghindari serangan ilmu leak pengiwa dengan cara memohon perlindungan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, dan menanam beberapa jenis tanaman yang dipercaya memiliki energi positif dan menangkal energi negatif ilmu leak pengiwa yakni pohon bidara, pohon kelor, bambu kuning, sirih dan serai wangi. @ (RED/NU)

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *