LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Umat Hindu di Bali memasuki rangkaian penting menjelang hari raya Galungan yaitu Penyekeban, yang jatuh pada Minggu 16 November 2025, penyekeban menandai tiga hari sebelum hari raya Galungan, menurut perhitungan kalender Bali hari raya Galungan dirayakan pada Rabu 19 Nopember 2025 umat Hindu mulai memusatkan pikiran, mengendalikan diri dan mempersiapkan bathin menyambut datangnya kemenangan dharma melawan adharma.
Mangku Nyoman Yasa pria kelahiran Banjar/Pauman Beji, Desa Adat Timbrah, Desa Pretima, Karangasem, Bali kepada LintasCakrawalaNews mengatakan, penyekeban yang berasal dari kata sekeb berarti menutup atau menyimpan buah seperti pisang agar mencapai tingkat kematangan yang layak digunakan sebagai sarana persembahan saat hari raya Galungan, penyekeban mengandung pesan filosofis bahwa manusia perlu menyelimuti dan mengendalikan pikiran serta emosi yang dapat merusak kesucian hati.
Mangku Nyoman Yasa menjelaskan, umat Hindu khususnya memiliki beragam hari suci keagamaan yang penuh dengan makna spiritual, salah satu rangkaian hari raya penting adalah hari raya Galungan dan Kuningan, yang dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Saka Bali, tentunya perayaan ini menjadi momen sakral untuk memperkuat dharma dan memperingati kemenangan dharma atas adharma.
Lebih lanjut pria kelahiran Banjar/Pauman Beji, Desa Adat Timbrah, Desa Pretima, Karangasem, Bali ini mengatakan, hari raya Galungan memiliki arti bersatu melambangkan bersatunya kekuatan rohani dalam diri manusia untuk mencapai kemenangan kebaikan. Umat Hindu percaya bahwa pada hari Galungan leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan. Rangkaian perayaan Galungan dimulai dengan penyekeban, penyajaan, penampahan puncaknya hari raya Galungan, pada penampahan Galungan umat Hindu melakukan penyembelihan hewan sebagai simbol pengendalian diri terhadap sifat – sifat buruk dalam diri manusia.
“Puncak hari raya Galungan pada Rabu 19 Nopember 2025. Setelah merayakan kemenangan Dharma, umat Hindu melanjutkan sukacita dengan Umanis Galungan pada Kamis, 20 Nopember 2025 umat Hindu silaturahmi mengunjungi keluarga dan kerabat,” kata Mangku Nyoman Yasa.
Mangku Nyoman Yasa menyatakan, dalam ajaran Hindu, Galungan dipandang sebagai simbol kemenangan dharma atas adharma maka tiga hari sebelum perayaan, umat diajak untuk memulai proses pendalaman spiritual. Penyekeban menjadi periode awal untuk menurunkan intensitas aktivitas duniawi dan lebih memfokuskan diri pada kegiatan keagamaan serta refleksi batin. Penyajaan Galungan dilanjutkan kemudian penampahan Galungan pada menjadi puncak persiapan sebelum hari raya Galungan. Penampahan identik dengan kegiatan upacara serta pembuatan sesaji untuk hari raya Galungan merupakan puncak rasa syukur umat Hindu atas anugerah dan perlindungan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam kehidupan. “Kemenangan yang sesungguhnya dalam perayaan hari raya Galungan dimulai dari kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya sendiri,” pungkas Mangku Nyoman Yasa.
Mangku Nyoman Yasa mengucapkan rahajeng nyangra rahina Galungan lan Kuningan, dumogi Ida Sanghyang Widhi Wasa sueca Asung Kertha Wara Nugraha ring semeton sareng sami. Artinya: Selamat menyambut hari raya Galungan dan Kuningan, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat nugerah kepada kita semua. @ (RED/NU)






