Jero Balian Mangku Sumawijaya : Menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan Telah Dirayakan Sejak Tahun 882 Masehi

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan telah dirayakan sejak tahun 882 Masehi yakni Saka 804 pada masa Raja Sri Jaya Kesunu.

Lontar tersebut tertulis ‘Punang aci Galungan ika ngawit tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya’ yang artinya perayaan Hari Raya Galungan pertama kali berlangsung pada Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, tahun 804 Saka.

Jero Balian Mangku Sumawijaya ketika ditemui LintasCakrawalaNews di kediamannya Banjar Sigaran, Desa Mekarbhuana, Abiansemal, Badung Bali mengatakan, umat Hindu memiliki tradisi spiritual yang sangat kaya dan penuh filosofi, diantara sekian banyak hari suci, Hari Raya Galungan dan Kuningan menjadi salah satu rangkaian hari suci umat Hindu, berdasarkan kalender Saka Bali, keduanya dirayakan setiap 210 hari sekali, menandai momen kemenangan Dharma atas Adharma.

Lanjut Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan, Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung atau menang, hari raya Galungan diperingati sebagai kemenangan Dharma atas Adharma, sekaligus momen untuk menyatukan kekuatan spiritual dalam diri manusia. Umat Hindu meyakini bahwa pada hari raya Galungan, para leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan bagi keturunannya.

“Oleh karena itu, sehari sebelum hari raya Galungan dikenal sebagai Penampahan Galungan umat Hindu melakukan berbagai persiapan ritual, termasuk menyembelih hewan sebagai simbol pengendalian diri dari sifat – sifat buruk manusia,” kata Jero Balian Mangku Sumawijaya.

“Ciri hari raya Galungan adalah deretan penjor yang dihiasi janur, hasil bumi, dan persembahan. Penjor melambangkan wujud rasa syukur ke hadapan Sanghyang Widhi Wasa atas kemakmuran dan kehidupan di dunia ini,” jelas Jero Balian Mangku Sumawijaya.

“Menjelang hari raya Galungan seperti penyekeban, penyajaan dan penampahan, umat Hindu memasuki rangkaian persiapan menjelang hari raya Galungan, dimulai dari penyekeban yakni menunggu kematangan buah, lalu penyajaan yakni persiapan spiritual dan penampahan yakni pemotongan hewan dan pemasangan penjor,” urai Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya mengatakan,bpenyekeban dimulai pada hari Minggu 16 Nopember 2025, tradisi ini yakni menyimpan buah agar matang untuk dipersembahkan secara batiniah melatih pengendalian diri, dan penampahan Galungan jatuh pada Selasa 18 November 2025 adalah puncak persiapan dengan kesibukan membuat penjor dan sesajen untuk menyambut Galungan, hari raya Galungan yang jatuh pada Rabu 19 Nopember 2025, dan Umanis Galungan pada Kamis 20 Nopember 2025.

Jero Balian Mangku Sumawijaya mengucapkan rahajeng rahina jagat Galungan lan Kuningan, dumogi Ida Sanghyang Widhi Wasa ngicenin kerahayuan lan kerahajengan ring jagat sami. Artinya: selamat hari raya Galungan dan Kuningan, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kesejahteraan dan keselamatan alam semesta ini. @ (RED/NU)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *