LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Pesamuan Agung adalah pertemuan besar, forum atau musyawarah yang diselenggarakan Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin. Pertemuan ini berfungsi sebagai wadah untuk menetapkan program kerja, menyusun kebijakan, memilih pemimpin, memperkuat spiritualitas.
Ketua Panitia Pesamuan Agung Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin, I Ketut Saban mengatakan, fungsi dan tujuan Pesamuan Agung Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin yaitu menetapkan program kerja, pesamuan agung menjadi forum untuk menyusun berbagai program kerja yang akan dilaksanakan oleh Pengurus terpilih Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin.
“Pesamuan Agung Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin ini bertujuan untuk menyusun program kerja, mengkaderisasi pemimpin,” kata Ketut Saban.
I Ketut Saban mengatakan, Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin ini merupakan yang pertama kali digelar Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin, agenda utama adalah penyampaian program kerja serta pemilihan pengurus untuk periode mendatang.
“Pesamuan Agung ini memiliki arti strategis bagi Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin, karena menjadi dasar langkah bersama kita di masa depan,” tandas I Ketut Saban.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam memperkuat eksistensi Trah Arya Kuthawaringin, tidak hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai bagian penting dalam menjaga budaya, sejarah dan kearifan lokal Bali,” tegas I Ketut Saban.
Lanjut Ketut Saban menjelaskan, beradasarkan rapat pada Sabtu 13 September 2025 mengenai persiapan pesamuan agung yang di undang adalah dari instansi pemerintah yaitu Gubernur Bali, Kapolda Bali, Pangdam IX/Udayana, Ida Dalem Semara Putra, MDA Provinsi Bali, PDHI Bali, Dirjen Bimas Hindu Pusat, Bupati Klungkung, Dandim Klungkung, Kapolres Klungkung, Camat Klungkung, Danramil KLungkung, Kapolsek Klungkung, MDA Klungkung, PHDI Klungkung, Lurah Semarapura Tengah, Bhabinkamtibmas Samarapura Tengah, Babinsa Semarapura Tengah, Kepala Lingkungan Bucu, Kelian Adat Semarapura Tengah, Bendesa Adat Semarapura Tengah, Bendesa Adat Besakih, Pecalang Adat Semarapura Tengah.
Sulinggih yang diundang pada Pesamuan Agung Trah Arya Kuthawaringin yaitu Ida Pandita Rsi Dharma Putra Wijaya Nanda, Ida Pandita Agni Sri Bhagawan Prema Jaya, Ida Pandita Sri Siwa Wandira Wiweka Parama Dhaksa, Ida Sri Bhagawan Jaya Waringin, Ida Pandita Rsi Sindhu Aji Kuthawaringin, Romo Sepuh Medang Kemulan.
Semeton Arya yang diundang pada Pesamuan Agung Trah Arya Kuthawaringin yaitu Mance Agung, Pasemetonan Arya Kanuruhan, Pasemetonan Arya Gajah Para, Pasemetaon Arya Wangbang Pinatih, Pasemetonan Arya Kenceng, Pasemetonan Arya Sentong, Pasemetonan Arya tan Wikan, PasemetonanArya Pangalasan, Pasemetonan Arya Kepakisan, PSAKKT Klungkung, PSAKK Rendang.
Penglingsir yang diundang pada Pesamuan Agung Trah Arya Kuthawaringin yaitu Cokorde Dr. dr. Raka Puri Saraswasti Klungkung, I Dewa Gede Catra, Dr. A. A Merta, Cok Mayun, Prof. Dr. A. A Wirawan, Puri Satria.
Pengusaha/Pejabat yang diundang pada Pesamuan Agung Trah Arya Kuthawaringin yaitu I Nyoman Partha, I Gede Sudibya, N Tamba, Cening Bagus, Ketut Leo, Mangku Dalem Mengwi mantan BNN.
“Pengurus yang diundang pada Pesamuan Agung Trah Arya Kuthawaringin yaitu Paruman Penglisir 9 Orang, Saba Wulaka 2 orang, Pengurus Agung 15 orang, Pasementonan 5 orang per-Kabupaten 45 orang, Pasemetonan Jeroan Bindu 10 orang, Pasemetonan Manduang 10 orang,” jelas Ketut Saban.
Bupati Klungkung, I Made Satria saat membuka Pesamuan Agung Pasemetonan Ageng Trah Arya Kuthawaringin, di Pendopo Puri Agung Klungkung pada Sabtu 26 September 2025 mengatakan, kegiatan yang baru pertama kali digelar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat tali persaudaraan sekaligus merumuskan arah organisasi pasemetonan ke depan.
Bupati Kkungkung, I Made Satria yang juga merupakan bagian dari Trah Arya Kuthawaringin, menjelaskan pesamuan agung ini merupakan wujud nyata komitmen pasemetonan dalam menjaga warisan leluhur, mempererat persaudaraan dan melestarikan nilai – nilai budaya.
“Keberadaan Trah Arya Kuthawaringin adalah aset tidak ternilai dalam kekayaan budaya daerah kita. Jaga pasemetonan, jangan kedepankan emosional atau ego sektoral, tetapi jadikan sebagai benteng persatuan,” kata I Made Satria.
Pihaknya berharap agar program kerja yang dirumuskan tidak hanya bersifat internal, melainkan bersinergi dengan pembangunan daerah.
“Program harus adaptif, visioner serta memberikan dampak positif bagi masyarakat, misalnya lewat kegiatan sosial, pelestarian lingkungan, pengembangan generasi muda, hingga pembangunan pura pedharman di Besakih,” pungkas I Made Satria. @ (RED/NU)






