Emak-Emak Pengupas Kerang Hijau, Sang Pejuang Rupiah dari Desa Ketapang Mauk Tangerang

LINTASCAKRAWALANEWS.COM, ‎Tangerang – Olahan kerang hijau di restoran seafood selalu menjadi menu favorite pengunjung. Namun untuk sampai jadi hidangan yang lezat di meja-meja restoran, ada kerja panjang yang harus dilalui.

‎Salah satunya adalah kerja keras emak-emak yang bekerja mengupas kerang hijau. Memisahkan daging kerang dari cangkangnya.

Bacaan Lainnya

‎Hal ini seperti terlihat di Kampung Nelayan Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Setiap hari, ratusan istri-istri nelayan di sana berkumpul di sebuah tempat, tenda sederhana yang hanya beratap terpal.

Mereka bukan mau ngerumpi, tapi bekerja menjadi pengupas kerang hijau. Dibawah tenda sederhana itu, emak-emak lintas generasi dari yang muda hingga lansia duduk berhimpitan.

‎Berbekal pisau, mereka membuka satu demi satu cangkang kerang hijau lalu memisahkan dagingnya. Daging kerang hijau itu, sebelum dipisahkan dari cangkangnya, lebih dulu direbus untuk memudahkan pengelupasannya.

‎Alfian, Ketua Kelompok Nelayan Wijaya Kusuma (KNWK) mengatakan, dia mempekerjakan emak-emak ini agar pendapatan keluarga meningkat.

‎”Umumnya, yang kerja disini adalah para istri nelayan. Jadi, suaminya berangkat melaut, istrinya juga kerja sampingan jadi pengupas kerang hijau,” katanya, Minggu 25 Mei 2025.

Dijelaskan, per kilo kerang hijau yang berhasil dikupas, emak-emak ini mendapat upah Rp3 ribu. Dalam sehari, mereka bisa mengupas antara 20-25 Kg. “Jadi, penghasilan ibu-ibu disini, per hari antara Rp60-70 ribu, lumayan lah,” kata nelayan yang akrab dipanggil Rian ini.

‎Menurut Rian, untuk menjalani pekerjaan itu, emak-emak ini tidak harus menganggu waktu untuk keluarganya. Sebab, pekerjaan itu dimulai pukul 11.00 Wib. “Jadi, setelah emak-emak ini menjalankan tugas rumah tangga, baru mereka mengupas kerang hijau,”katanya.

‎Untuk menjadi pengupas kerang hijau, butuh skill khusus terutama dalam kecepatan membuka dan melepas cangkang kerang hijau. Semakin cepat hal itu dilakukan, maka akan semakin banyak penghasilan yang mereka dapat.

‎Namun Rian selalu mengingatkan kepada mereka agar selalu berhati-hati dalam bekerja. Sebab, Butuh konsentrasi saat mengupas kulit kerang.

‎”Cangkang atau kulit kerang sangat keras. Kau tidak hati-hati, tangan pekerja bisa luka tergores tajamnya kulit kerang, jari juga bisa kena pisau,”ujarnya.

‎Disisi lain, Rian menjelaskan, sebelum dikupas, kerang hijau hasil budidaya nelayan anggotanya itu lebih dulu direbus antara 30-45 menit. Alat rebusnya pun terbilang sederhana. Hanya memanfaatkan drum bekas sebagai wadah merebus, sedangkan pengapiannya dari bahan kayu bakar.

‎”Kayu bakarnya memanfaatkan kayu-kayu atau bambu bekas yang tidak terpakai. Jadi nggak beli,”katanya.

‎Butuh Dukungan Pemerintah;

‎Dalam sehari, kerang hijau yang dikupas oleh emak-emak ini bisa mencapai 1 ton. Selanjutnya, setiap malam Rian berangkat ke Pelabuhan Muara Angke Jakarta untuk menjual kerang hijau kupasan itu.

‎Ketua Kelompok Nelayan Wijaya Kusuma (KNWK) Alfian alias Rian mengatakan, selama ini pihaknya bekerja mandiri dan belum mendapat bantuan apapun untuk mendorong UMKM dari KNWK.

‎”Kami belum dapat bantuan apapun, baik permodalan, peralatan penunjang kerja maupun pembinaan. Semua kami lakukan secara mandiri,”ujar Alfian.

‎Rian berharap, aktifitas yang telah berjalan sekitar 5 tahun ini mendapat dukungan dari Pemerintah, khususnya dinas/instansi terkait.

‎”Bantuan permodalan maupun peralatan dan sarana-prasara sangat kami butuhkan untuk meningkatkan produksi. Sebab, kebutuhan kerang kupas terys meningkat, sementara hasil produksi belum bisa dimaksimalkan mengingat keterbatasan sarana-prasarana,”tambahnya.

( Heri Tim Sekber )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *