Santrian Gallery Sanur Menggelar Pameran Tunggal Seniman Kontemporer Handy Saputra

 

LINTASCAKRAWALANEWS COM – Seniman Handy Saputra menggelar pameran tunggal bertempat di Santrian Gallery, Hotel Santrian Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar Bali. Pameran ini berlangsung hingga 31 Desember 2026. Dalam pameran bertajuk ‘Cengkerama Sang Bulan dengan Lingkaran Cahayanya.

Muhammad Bundhowi menjelaskan bahwa, Handy Saputra, selaku seniman kontemporer memamerkan karya – karyanya yang menyuguhkan berbagai pemaparan visual berbentuk peristiwa yang terjadi di sekitar bumi. Dimana, dalam penggalan puisi karya penyair Tiongkok, Gu Feng dia melukiskan
‘Satu lingkaran cahaya bulan terang menggantung di langit luas Cahaya jernih yang samar melingkar berlapis – lapis Bulanpun bertanya kepada cahaya: Mengapa engkau selalu setia menemaniku? Cahaya menjawab: Hanya untuk melindungi keindahanmu yang samar’.

Nampaknya penggalan syair kuno karya penyair Tiongkok, Gu Feng diatas bisa menjadi prinsip pemandu, dan sekaligus menjadi judul, kuratorial ini.

“Kita bisa mengamati karya – karya Handy Saputra sebagai upaya untuk berefleksi pada kedalaman batin dan sekaligus untuk berinteraksi ke luar ke ranah – ranah luar dari diri kita sendiri. Secara imajinatif kita bisa membawa diri kita melihat fenomena – fenomena kontemplatif bathini maupun secara terang benderang melihat peristiwa – peristiwa yang terjadi diluar diri kita, di lingkungan sekitar kita, di kehidupan sosial kita bahkan di kawasan – kawasan tanpa sekat negara,” jelas Muhammad Bundhowi, pada Jumat 6 Nopember 2026.

Ia melanjutkan, Syair ini menggambarkan hubungan yang saling melengkapi. Bulan mengungkapkan rasa penasaran mengapa lingkaran cahaya (halo) selalu mengelilinginya saat malam dingin. Halo menjawab dengan puitis bahwa kehadirannya bukan untuk menyaingi terang sang bulan, melainkan untuk membingkai dan menjaga keindahan bulan agar terlihat semakin anggun dan magis di mata dunia.

“Kita bisa berimajinasi bahwa karya – karya Handy adalah sebuah rembulan yang selalu ditemani lingkaran di sekelingnya yang menerangi segala peristiwa yang terjadi di bawahnya termasuk tentang kemanusiaan beserta perilakunya,” jelasnya.

“Dari karya – karya Handy, kita bisa berefleksi tentang siapa diri kita dan siapa manusia lewat segala visual yang diciptakannya. Yang kita perlukan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut adalah daya imajinatif kita dalam menginterpretasikan karya – karya Handy Saputra,” terang Muhammad Bundhowi.

Salah satu metode yang mungkin bisa membantu kita untuk memahami karya – karya Handy Saputra adalah dengan mengendarai biduk imajinasi kita melayang mengawang – awang di langit dan menyaksikan keindahan bulan dengan kesederhanaannya dan bercengkarama dengan manusia – manusia tanpa gender, makhluk – makhluk anononimus, benda, topeng – topeng magis dan pernik – pernik lainnya yang bisa ditemukan dalam karya – karya kontemporer Handy Saputra kali ini.

Secara profesional, Handy Saputra adalah seorang seniman kontemporer dan pengusaha asal Bali yang dikenal melalui karya – karyanya yang khas dalam aliran Art Brut (seni mentah) dan Outsider Art (Seni Liyan atau seni dari luar arus utama). Berbeda dengan seniman yang sepenuhnya berkecimpung di studio, Handy memadukan latar belakang di bidang manajemen bisnis dengan praktik seni visual yang sangat ekspresif dan dipelajari secara otodidak.

Karya – karyanya Handy sering kali menampilkan ekspresi yang liar, naluriah, dan tanpa hambatan yang merefleksikan kejujuran, tanpa pretensi atau sekatan – sekatan teknik akademis.

Handy Saputra kerap memilih Media yang Dinamis: Ia terutama berkarya menggunakan tinta Tiongkok yang tegas di atas kertas, cat akrilik di atas kanvas, seni cetak (termasuk sablon dan litografi), serta seni ukir kayu.

Media – media ini, termasuk teknik cetak banyak muncul dalam beberapa karyanya, termasuk dalam dua pameran tunggal terakhirnya, yaitu The Dragonfly’s Ripples yang menampilkan karya – karyanya yang segar dan penuh emosi.

Di Indonesia sendiri, fonomena senirupa Art Brute, bukanlah suatu hal yang baru saja muncul. Banyak seniman – seniman yang dinggap memiliki tendensi mencipta Art Brute, termasuk di antaranya Ni Nyoman Tanjung (Bali) yang ditemukan oleh seniman Bali Made Budhiana, dan kemudian diperkenalkan ke kancah internasional oleh antropolog asal Swiss, Georges Breguet, Kemudian Dwi Putro Mulyono atau Pak Wi (Yogyakarta) yang merupakan sosok monumental dalam dunia seni outsider (seni di luar arus utama) di Indonesia. Hidup dengan skizofrenia dan gangguan pendengaran berat, Pak Wi menggunakan seni lukis sebagai sarana komunikasi utama dan fokus kognitifnya.

Sebagai seniman Art Brut, Handy Saputra kerap bermain – main (mencipta) berbagai medium termasuk Akrilik di kanvas, lithography, dan cetak saring canggih. Handy juga kerap bereksperimen dengan teknik tingkat tinggi dengan proses grafis di studio profesional DEVFTO Printmaking Studio.

Karya – karya Handy kerap dipenuhi ironi sosio-politik, abstraksi sosial dan observasi kehidupan keseharian, misalnya dalam ‘Looking for Scapegoat’. Sebagai seniman yang memilih jalan seninya dalam ranah visual Art Brute, Handy Saputra bisa dianggap sebagi seniman prolifik.

Karya – karyanya yang liar, penuh emosi, namun sarat dengan makna – makna yang muncul dari asosiasi imajinasi dengan karya – karya visualnya cukup mengundang berbagai reaksi positif. Dari ke dua pamerannya, yakni ‘The Audacity of Silent Brush dan The Dragonfly’s Ripples’, kita bisa melihat sebuah lompatan – lompatan progresif dan kualitatif.

Dalam The Audacity of Silent Brush, Handy baru menemukan oase kreatif penuh dengan temuan – temuan interpretasi visual yang amat personal. Kemudian, The Dragonfly’s Ripples merupakan ekstensi dari temuan – temuan interpretasi visual yang amat personal tersebut telah bermetamorfosis menjadi pijakan kreatif yang lebih kokoh.

“Disini Handy menemukan karya – karyanya telah diterima lebih luas dan mulai mengundang berbagai pandangan dan dampak yang beragam seperti yang beredar dalam berbagai media masa,” jelas Muhammad Bundhowi.

Dalam pameran bertajuk The Dialogue Between The Moon and Its Halo (Cengkerama Sang Bulan Dengan Sinar Sekelilingnya), kita diajak untuk mengamati berbagai fenomena dalam visual. Handy, dalam proses kreatifnya, telah bermetamorfis dari berupaya melakukan sebuah pencarian kreatif yang personal, menuju sebuah penemuan jati diri kreatif yang lebih terbuka pada fenomena – fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Disini Handy mengajak kita bahkan untuk lebih keluar, untuk mengamati fenomena – fenomena yang terjadi dalam ranah – ranah filosofis, politis maupun psikologis.

“Karya -karyanya yang lahir dari hasil perjalanannya ke negara Tiongkok, seperti Match Making in China bahkan membawanya untuk merespon fenomena perjodohan yang ironis dan melankolis yang syarat dengan refleksi kehidupan di negara ini. Karya Two Men and A Dog, memaparkan kita pada sebuah situasi psikologis hasil dari kehidupan sosial yang sunyi. Patung porselin Handy berjudul The Weigh of the Bird dan The Vigil of Crimson Spirit mengajak kita untuk lebih berpikir kontemplatif dan filosofis tentang peranan pikiran (kesadaran) kita yang disimbolkannya dalam bentuk seekor burung yang seharusnya menjadi simbol dari kebebasan dan kesadaran jiwa,” pungkas Muhammad Bundhowi. @ (RED/NU)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *