I Wayan Sudiasa : Tumpek Landep Momen Mulat Sarira Untuk Memperbaiki Karakter Dan Memohon Ketajaman Pikiran

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Tumpek Landep merupakan hari suci umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap 210 hari pada Saniscara Kliwon Wuku Landep, untuk memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sanghyang Pasupati, adalah momen bersyukur dan memperbaiki karakter diri serta permohonan ketajaman pikiran/landeping idep, hati dan kecerdasan agar selalu bijaksana, fokus dan hidup berdasarkan dharma.

Bendesa Adat Sanding, I Wayan Sudiasa ketika ditemui di kediamannya Banjar Mancawarna, Desa Sanding, Tampaksiring, Gianyar Bali kepada LintasCakrawalaNews mengatakan, secara filosofis Tumpek Landep adalah simbol untuk mempertajam citta (perasaan), budhi (pikiran) dan manah (hati). Umat diajak untuk introspeksi diri/mulat sarira agar pikiran tidak tumpul, melainkan mampu membedakan hal yang baik (dharma) dan buruk (adharma).

“Tumpek landep diperingati sebagai hari turunnya anugerah ketajaman, dimana Sanghyang Pasupati diyakini menanamkan kekuatan tajam dalam diri manusia dan benda – benda yang sakral yakni upacara dilakukan pada benda tajam seperti keris, tombak sebagai simbol senjata untuk membasmi kebodohan. Upacara pada hari tumpek landep mencakup pada alat – alat yang memudahkan kehidupan seperti mobil, motor, alat elektronik, mesin agar digunakan dengan bijak dan produktif,” kata Bendesa Adat Sanding, I Wayan Sudiasa.

Lanjut Bendesa Adat Sanding, I Wayan Sudiasa menjelaskan, tumpek landep merupakan kelanjutan dari hari raya Saraswati dimana hari turunnya ilmu pengetahuan, setelah ilmu pengetahuan diturunkan tumpek landep menekankan pada penajaman ilmu tersebut agar bermanfaat bagi kehidupan di dunia ini.

“Jadi tumpek landep adalah hari untuk mempertajam pikiran, hati dan alat bantu hidup agar manusia menjadi pribadi yang berguna dan selaras dengan ajaran agama,” jelas I Wayan Sudiasa.

I Wayan Sudiasa menyatakan, tumpek landep adalah hari raya umat Hindu untuk memuja Ida Bhatara Sanghyang Siwa Pasupati, yang diartikan sebagai sang pemelihara segala benda tajam. Tumpek landep artinya, tu bermakna metu atau bertemu dan mpek bermakna akhir, sedangkan landep berarti tajam atau runcing. Pada hari tumpek landep, umat Hindu melakukan upacara persembahyangan dan menyucikan benda – benda tajam.

“Jadi inti dari hari tumpek landep ini bukan sekadar menyembah benda tajam yang bahannya dari logam, melainkan wujud rasa syukur dan penghormatan agar alat – alat yang digunakan dalam kehidupan sehari – hari membawa manfaat serta menjadi pengingat untuk menajamkan pikiran,” kata Bendesa Adat Sanding ini.

Bendesa Adat Sanding menjelaskan, tumpek landep adalah hari suci untuk memohon ketajaman pikiran/landeping idep dan menyucikan benda – benda tajam seperti senjata, kendaraan, alat kerja tentunya sebagai wujud syukur kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sanghyang Pasupati yang dirayakan setiap Sabtu Kliwon Wuku Landep.

I Wayan Sudiasa mengatakan, secara filosofis hari tumpek landep adalah momen untuk mengasah pikiran agar jernih dan cermat, serta menggunakan teknologi atau alat untuk kebaikan dan melakukan persembahyangan dengan banten khusus seperti pasupati, kusuma jaya dan canang wangi untuk memohon keselamatan agar benda tersebut berfungsi dengan baik.

“Upacara saat hari tumpek landep diartikan secara luas sebagai momen mensyukuri kemudahan yang telah diberikan seperti teknologi modern dalam kehidupan sehari – hari,” pungkas Bendesa Adat Sanding, I Wayan Sudiasa. @ (RED/NU)

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *