SAATNYA KAUM MINORITAS DAN GENERASI MUDA MEMBANGUN RUMAH PERJUANGAN POLITIK SENDIRI

LINTASCAKRAWALANEWS.COM, Indonesia sedang memasuki zaman yang aneh.

Di negeri yang katanya menjunjung demokrasi, rakyat justru semakin sering merasa jauh dari politik. Di negeri yang selalu berbicara tentang persatuan, masyarakat justru semakin mudah dipecah karena perbedaan pilihan dan identitas. Dan di negeri yang lahir dari semangat gotong royong, politik perlahan berubah menjadi panggung perebutan kekuasaan yang penuh kepentingan kelompok dan dinasti.

Hari ini rakyat melihat sendiri bagaimana politik semakin mahal, semakin elitis, dan semakin sulit disentuh masyarakat kecil.

Partai-partai politik berlomba menampilkan citra kerakyatan, tetapi di belakang layar masyarakat mulai menyaksikan munculnya lingkaran kekuasaan yang hanya berputar pada nama, keluarga, dan kelompok tertentu. Bahkan partai yang dahulu dipandang sebagai simbol anak muda dan harapan perubahan kini mulai dipertanyakan independensinya karena dianggap terlalu dekat dengan politik dinasti dan kepentingan elit.

Akibatnya, rakyat kecil kembali menjadi penonton.

Kaum minoritas kembali hanya dijadikan angka statistik saat pemilu. Generasi muda hanya dijadikan mesin kampanye digital. Sementara setelah kekuasaan diperoleh, suara masyarakat perlahan dilupakan.

Inilah kenyataan politik Indonesia hari ini.

Padahal bangsa ini tidak dibangun untuk diwariskan kepada segelintir keluarga atau kelompok tertentu. Indonesia lahir dari darah, air mata, dan perjuangan banyak golongan yang berbeda-beda.

Konstitusi Indonesia dengan tegas menyatakan dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 bahwa seluruh warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum dan pemerintahan. Artinya, demokrasi tidak boleh hanya dikuasai oligarki, modal besar, atau dinasti politik tertentu.

Namun realitas di lapangan sering berkata lain.

Kelompok minoritas masih sering mengalami perlakuan yang melukai rasa keadilan. Rumah ibadah dipersulit. Aktivitas keagamaan mendapat tekanan. Masyarakat adat kehilangan tanah ulayat karena kepentingan investasi. Kelompok disabilitas masih berjuang memperoleh akses yang setara. Penghayat kepercayaan masih menghadapi stigma sosial. Bahkan masyarakat kecil di pedalaman sering hanya menjadi objek pembangunan tanpa benar-benar didengar suaranya.

Peristiwa-peristiwa intoleransi dan persekusi yang terjadi di berbagai daerah menjadi alarm bahwa demokrasi Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam menjaga keadilan bagi seluruh rakyat.

Peristiwa di Bantul yang sempat menjadi perhatian publik hanyalah satu dari sekian banyak kejadian yang membuka mata masyarakat bahwa kebebasan beribadah dan perlindungan terhadap kelompok minoritas masih belum sepenuhnya aman.

Namun yang lebih memprihatinkan adalah sikap sebagian masyarakat Kristen sendiri yang sering hanya marah di media sosial, mengeluh di ruang percakapan, tetapi tidak mau masuk ke dalam sistem perjuangan politik.

Padahal sejarah membuktikan: jika orang-orang baik terus menjauh dari politik, maka kekuasaan akan terus diisi oleh mereka yang hanya haus jabatan dan kepentingan pribadi.

Karena itu, kaum minoritas dan generasi muda harus mulai sadar bahwa mereka membutuhkan rumah perjuangan politik sendiri. Rumah yang lahir bukan dari ambisi kekuasaan, tetapi dari kesadaran untuk menjaga keadilan, kebebasan, dan masa depan demokrasi Indonesia.

Di sinilah kehadiran partai Kristen menjadi penting.

Partai Kristen tidak boleh hanya menjadi simbol agama atau alat kepentingan elit tertentu. Jika itu yang terjadi, maka partai tersebut akan gagal memahami panggilan sejarahnya.

Partai Kristen harus menjadi rumah perjuangan moral dan kebangsaan.

Rumah bagi rakyat kecil yang lelah melihat politik penuh kebohongan.

Rumah bagi kaum minoritas yang sering merasa tidak memiliki perlindungan politik.

Rumah bagi generasi muda yang merindukan politik bersih dan berintegritas.

Dan rumah bagi semua anak bangsa yang percaya bahwa politik seharusnya dipakai untuk melayani rakyat, bukan melayani keserakahan.

Namun perjuangan itu tidak boleh dibangun dengan kebencian terhadap kelompok lain.

Indonesia terlalu besar untuk dipelihara dengan politik permusuhan.

Leluhur Nusantara sejak dahulu telah mengajarkan bahwa kekuatan bangsa lahir dari persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Orang Jawa mengenal falsafah “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” — kerukunan membawa kekuatan, perpecahan membawa kehancuran.

Masyarakat Bugis mengenal nilai “Sipakatau” yang berarti saling memanusiakan manusia.

Masyarakat Minahasa memiliki filosofi “Si Tou Timou Tumou Tou” — manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.

Sementara budaya Batak mengajarkan Dalihan Na Tolu, sebuah filosofi tentang keseimbangan, penghormatan, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bersama.

Nilai-nilai budaya Nusantara itu sebenarnya sedang mengingatkan Indonesia bahwa politik tanpa hati nurani akan melahirkan bangsa yang kehilangan arah.

Karena itu, partai Kristen harus hadir membawa wajah politik yang berbeda

Bukan politik yang sibuk memainkan isu agama demi suara.

Bukan politik yang menjual penderitaan rakyat demi pencitraan.

Bukan politik yang membangun dinasti kekuasaan.

Tetapi politik yang menghadirkan keberanian moral.

Politik yang melindungi rakyat kecil.

Politik yang menjaga toleransi.

Politik yang memperjuangkan pendidikan, kesejahteraan, dan keadilan sosial.

Serta politik yang berani bersuara ketika ketidakadilan terjadi.

Kaum muda Kristen juga harus mulai membuka mata.

Jangan hanya aktif membuat konten rohani tetapi takut berbicara tentang masa depan bangsa. Jangan hanya menjadi penonton yang sibuk mengkritik keadaan tanpa mau terlibat membawa perubahan.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi memiliki integritas, keberanian moral, dan hati untuk melayani rakyat.

Karena masa depan bangsa ini tidak boleh terus diserahkan kepada mereka yang hanya melihat politik sebagai jalan mempertahankan kekuasaan keluarga dan kelompok tertentu.

Pada akhirnya, perjuangan politik bukan soal siapa yang paling kuat atau paling kaya. Perjuangan politik adalah tentang siapa yang masih memiliki hati nurani untuk berdiri bersama rakyat ketika banyak orang memilih diam.

Dan ketika kaum minoritas mulai bersatu, generasi muda mulai sadar politik, serta rakyat kecil mulai berani memiliki rumah perjuangan sendiri, saat itulah demokrasi Indonesia sedang menemukan kembali jiwanya sebagai bangsa yang besar, beradab, dan bermartabat.

Penulis:

Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Jurnalis Pewarna Indonesia dan Penggiat Budaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *