Alhamdulillah Bisa Kembali Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)

LINTASCAKRAWAlANEWS.COM –
Sore itu semua terasa biasa saja. Ibu pulang setelah seharian di ladang. Di kamar mandi terlihat ayah mencuci kaki yang dipenuhi lumpur perkebunan yang memang hampir setiap hari dilakukannya jika tidak ada kerja atau acara lain seperti memenuhi undangan hajatan. Saya yang juga baru sampai rumah setelah bermain tepat sepulang kantor, semua biasa saja.

Hingga kemudian dari halaman depan terdengar suara berulang hingga terdengar ke dalam rumah. “Cetak”, “cetuk”, seperti itu dan tidak berhenti. Pada bagian depan, tepatnya di luar halaman rumah, suara berisik itu ternyata dari pekarangan tetangga yang membuka tempat untuk pengunjungnya bermain gaple.

Bacaan Lainnya

Secara perlahan, warung tetangga kini menyediakan tempat yang kemudian hari dijadikan tempat untuk duduk-duduk dan bermain domino berbahan plastik padat tersebut. Kumpul-kumpul dengan ragam aksi di tempat tersebut dilakukan sejak pagi hingga malam.

Bagaimana saya, perbuatan yang mereka lakukan saban hari tersebut mengganggu kenyamanan dan ketentraman lingkungan. Benar saja, pada suatu malam saya saksikan ayah dan ibu berpindah tempat tidur dari sebelumnya di ruang depan dan tengah jadi ke bagian belakang rumah. Baru tersadar bahwa ternyata sebenarnya hal tersebut tidak semestinya biasa terjadi.

Pada suatu hari, saya berinisiatif untuk menegur untuk memberi tahu dan pengertian terkait akibat perbuatan mereka khususnya terhadap penghuni rumah di keluarga kami. Namun ternyata sia-sia! Hingga sampai terhitung setidaknya tiga reaksi saya menemui tetangga saya selaku pemilik warung termasuk para pengunjungnya tersebut.

Namun sama sekali tidak merubah perilaku mereka bahkan kian menjadi-jadi. Si Golap, pemilik warung bahkan membuat tembok pembatas yang panjang. Mungkin maksudnya agar dapat menutupi, namun tentu saja, suara mengganggu tersebut tetap ada. Hingga selang beberapa tahun, ibu saya meninggal disusul ayah pada beberapa tahun berikutnya, kondisi tidak ada berubah ke arah perbaikan sama sekali.

Sungguh suatu perilaku yang tidak bisa dianggap biasa. Aksi hiburan yang mengorbankan kenyamanan dan ketentraman serta persatuan yang selama ini terjaga di desa saya ada suatu masalah sosial serius. Terlebih aparat desa dan orang-orang paham serta pemangku jabatan setempat justru bersikap mendukung. Meski dalam keyakinan saya ada saja dari orang desa yang memiliki kesadaran bahwa perilaku mereka adalah merugikan.

Agar tidak merasa sendiri dan senantiasa kuat dan tegar tentunya saya senantiasa menyertakan Tuhan. Menghadapi mereka dengan sudut pandang ketuhanan yang juga menakdirkan kehidupan saya dalam kondisi ini beserta tetangga dan orang-orang yang senantiasa menyertai mereka.

Semenjak kepergian Umak dan ubak, saya tinggal sendiri di rumah tersebut. Hanya saja, kini terdapat rumah petak seukuruan 4×4 tercogok di depan rumah. Rumah yang dibangun saudara tertua saya. Tidak ada lagi halaman luas, kini telah ada bangunan baru yang telah dihuni kakak pertama dengan tiga buah hatinya.

Untungnya, sudara saya lainnya telah menempati rumah mereka di luar desa. Tidak seperti masyarakat desa sini pada umumnya, saudara saya yang kedua tinggal di desa lain. Begitu pun kakak saya yang nomor tiga, satu-satunya saudara perempuan yang ikut suaminya ke Jawa. Saya dan saudara yang menempati lingkungan rumah ini hidup dalam masalah bertetangga.

Sudah sepatutnya, saya yang mengalami kondisi dalam masalah tersebut mencari jalan keluar dengan tidak melibatkan banyak pihak luar. Sebisa saya, saya lakukan untuk mencari jalan keluar.

Berkat kebaikan Tuhan, terpikir akan suatu langkah yang dilakukan oleh orang Mulia zaman dulu. Dengan berpikir sebagaimana orang lain pikirkan, berkata dan berbuat sebagaimana mereka juga katakan dan lakukan, namun tidak dalam keyakinan. Keimanan senantiasa terpatri kepada kekuasaan Tuhan. Sosok tersebut adalah Nabi Mulia Ibrahim “‘alaihissalaam”.

Sekilas kisah beliau sang suri teladan adalah dalam menghadapi kaum yang mempersekutukan Tuhan dengan menjadi seperti mereka. Menganggap Matahari dan Bulan sebagai Tuhan bahkan berhala-berhala.

Mempertuhankan benda-benda sesembahan selain Tuhan untuk menunjukkan kelemahan masing-masing. Matahari yang hanya ada pada siang hari namun tenggelam ketika malam menjelang. Bulan yang ada pada malam hari dan pada malam-malam tertentu saja akan lenyap dan tidak terlihat terang di siang harinya. Begitu seterusnya.

Hingga memasuki bagian paling rumit, yaitu terhadap sesembahan berupa berhala yang merupakan buatan manusia. Suatu drama sedemikian rupa tak pelak dibutuhkan. Langkah pertama secara sembunyi-sembunyi dilakukan dengan menghancurkan semua berhala dengan menyisakan satu yang paling besar. Sontak hal ini membuat marah para penyembahnya. Peradilan khas penguasa pun dimulai.

Di antara patung-patung yang dibuat oleh mereka sendiri, Nabi Mulia Ibrahim menunjuk paling yang berukuran paling besar adalah paling berkuasa maka tanyakanlah kepadanya tentang siapa pelaku perusakan terhadap patung-patung lainnya. Kesadaran mereka pun terusik. Dengan mengatakan bahwa tidak mereka mendapatkan informasi sekecil apa pun dari sebuah patung, meski yang paling besar.

Suatu sikap teguh nan berani yang dilakukan seorang Ibrahim muda (“fataa”) dalam menghadapi kaumnya. Di akhir kisah nan monumental sepanjang sejarah kehidupan manusia tersebut menunjukkan kebersamaan dan pertolongan Tuhan bersifat mutlak bagi hamba-hambaNya yang bertaqwa kepadaNya, beliau diselamatkan!

Langkah ini juga yang perlahan saya lakukan dengan pendekatan sehalus mungkin. Meski tidak menuntut sepenuhnya berubah, namun usaha ini diharapkan menjadi ladanga amal sebagaimana kisah Ibrahim yang sangat menginspirasi banyak hingga saat ini. Kondisi lingkungan yang kondusif adalah di antara harapan selain menyerahkan segala hasilnya kepada Tuhan yang hanya di tanganNya segala kebaikan.

Perlahan-lahan, saya masuk dalam dunia mereka. Sesekali dengan memanfaatkan kesempatan saya berbelanja atau sekedar berkunjung ke sana. Tidak dengan menjadi seperti mereka, namun beberapa perbuatan yang terkategori idealnya tidak dilakukan, terpaksa saya juga mainkan. Seperti bersenandung dengan lagu yang kadang mereka putar, dengan dimaksudkan menyindir atau menegur mereka dengan lantunan tersebut.

Tidak mudah memang menjadi sosok di luar diri yang artinya menjadikan diri seolah berada di luar kebaikan, namun kesulitan dapat dihadapi dengan semangat tak bakal padam. Berbekal percontohan, harapan akan kebaikan serta pelajaran tentang perjalanan hidup dan cobaan, serta pendidikan khususnya dalam pembentukan diri. Maka syukur, patut dipanjatkan agar senantiasa diteguhkan iman, dibimbing atas jalan yang menjadi pilihan, serta senantiasa dapat kembali dalam keadaan penuh kemenangan, inshaaAllah (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *