LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Dalam pementasan Dramatari Calonarang, juru undang leak sesungguhnya mengundang kekuatan secara sekala dan niskala, yang meliputi bhuta kala, bhuta bhuti, raksasa raksasi serta para pemilik ilmu hitam yang menyalahgunakan ilmunya yakni leak desti ngelaran aji ugig.
Aji Kuru Jimbar Kepakisan kepada LintasCakrawalaNews mengatakan, yang diundang saat pentas dramatari calonarang secara niskala adalah makhluk halus seperti bhuta kala, bhuta bhuti, raksasa dan raksasi. Praktisi ilmu hitam yaitu orang yang mempraktikkan ilmu hitam atau leak desti yang menyalahgunakan kekuatan spiritual untuk hal negatif, secara sekala melakukan dengan menggunakan sarana upakara bebantenan atau sesajen untuk menetralisir, serta menghadirkan unsur positif dalam pertunjukan.
Aji Kuru Jimbar Kepakisan menjelaskan, juru undang leak dalam pementasan calonarang memiliki makna sebagai sarana ritual niskala untuk mengundang kekuatan batin, baik positif maupun negatif, termasuk praktisi ilmu hitam atau leak, guna menetralisir energi bhuana alit dan bhuana agung.
“Makna dan filosofi juru undang leak dalam pentas dramatari calonarang yaitu untuk menyeimbangkan alam yakni Rwa Bhineda, pengundangan ini merefleksikan konsep keseimbangan antara kekuatan baik dan buruk agar kembali pada keharmonisan semesta,” jelas Aji Kuru Jimbar Kepakisan yang melakoni ngundang leak setiap pentas dramatari calonarang.
Ketika disinggung apa fungsi juru undang leak dalam dramatari calonarang, Aji Kuru Jimbar Kepakisan menjelaskan, juru undang berfungsi menyampaikan pesan bahwa kekuatan negatif harus dikendalikan dan tidak dipertentangkan dengan ego semata, menjadi ciri khas dan bagian sakral dalam pementasan Calonarang yang menggunakan bahasa campuran kawi dan Bali kuno yang bernuansa mistis.

Aji Kuru Jimbar Kepakisan bersama Wartawan LintasCakrawalaNews Biro Bali.
Aji Kuru Jimbar Kepakisan menjelaskan, mempunyai slogan Ciat Enjoy yang artinya Citta Ikhlas Ayu Tulus kalau sudah citta ikhlas ayu tulus pastika enjoy. Dalam ajaran Buddhisme dan Yoga, citta adalah pusat kesadaran yang berfungsi mengenali, merasuki atau mengetahui suatu objek. Citta terbagi menjadi berbagai jenis, seperti akusala citta artinya kesadaran yang tidak baik karena keserakahan atau kebencian, serta kesadaran baik atau netral. Ikhlas adalah memurnikan niat dan melakukan segala amal perbuatan tanpa mengharapkan pujian, imbalan atau pengakuan dari manusia. Ikhlas berarti tetap berjuang secara maksimal lalu menyerahkan hasilnya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, bukan sekadar menyerah tanpa usaha, tidak merasa kecewa atau besar kepala saat dipuji maupun dicela oleh sesama manusia, menerima segala ketentuan dan rezeki dari Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan lapang dada.
Aji Kuru Jimbar Kepakisan menyatakan, leak aji ugig adalah salah satu bentuk ilmu hitam atau pengeleakan beraliran kiri atau pangiwa, dalam tradisi spiritual Hindu Bali yang sering ditakuti karena disalahgunakan untuk tujuan negatif. Aji ugig merupakan ilmu kerohanian yang praktisnya menyimpang dari jalan putih atau panengen, dimana energi atau aksara suci diputar untuk tujuan merusak alih – alih mencari pencerahan sejati.
“Praktisi ilmu aji ugig ini kerap disalahgunakan untuk mengganggu orang lain, menyebabkan sakit nonmedis, atau mengacaukan suatu upacara keagamaan atau yadnya akibat pemahaman spiritual yang keliru. Dalam khazanah aguron – guron Tantra Sastra, aji ugig dikategorikan sebagai bagian dari ilmu pangiwa yang ekstrem. Masyarakat tradisional biasanya menepis atau menetralisir pengaruh negatif ilmu ini melalui pembersihan diri, seperti melukat ke tempat suci atau menggunakan sarana penangkal tradisional,” kata Aji Kuru Jimbar Kepakisan.
Aji Kuru Jimbar Kepakisan menjelaskan, bagi seorang balian ayu tulus memiliki makna filosofis dan etis yang sangat mendalam, yang dapat dilihat dari dua sudut pandang utama yaitu etika profesi atau sesana balian dan ketulusan hati, dalam pengobatan Usada Bali, seorang balian penengen atau disebut juga Balian Ngardi Ayu yang artinya balian yang menanam atau menciptakan kebaikan.
Bagi seorang Balian Ngardi Ayu, ayu tulus diartikan sebagai komitmen penuh untuk menciptakan kebaikan atau ayu yang didasari oleh ketulusan dan keikhlasan hati yang murni.
“Pelayanan balian tanpa pamrih yakni membantu menyembuhkan orang sakit secara ikhlas tanpa berorientasi pada materi atau imbalan, menjaga pikiran, perkataan dan perbuatan tetap bersih agar kekuatan penyembuh atau taksu yang bersumber dari Ida Sanghyang Widhi Wasa tetap berfungsi dengan baik, menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan spiritual tanpa membeda – bedakan status sosial, kaya atau miskin, maupun latar belakang orang,” kata Aji Kuru Jimbar Kepakisan.
Aji Kuru Jimbar Kepakisan menjelaskan, seorang balian mengetahui hari ayu nulus sangat penting sebagai pedoman untuk menentukan waktu yang paling baik atau dewasa ayu dalam meramu obat, melakukan ritual penyembuhan atau mengobati pasien. Melakukan pengobatan pada hari yang tulus dipercaya akan menyelaraskan energi alam atau bhuana agung dengan energi manusia atau bhuana alit, sehingga proses penyembuhan pasien berjalan dengan lancar dan berhasil.
Diakhir bincang – bincang LintasCakrawalaNews dengan Aji Kuru Jimbar Kepakisan mengenai ngundang leak dalam pementasan dramatari calonarang, bahwa juru undang dalam pementasan calonarang memiliki makna sebagai sarana ritual niskala untuk mengundang kekuatan batin, baik positif maupun negatif, termasuk praktisi ilmu hitam atau leak, guna menetralisir energi bhuana alit dan bhuana agung. @ (RED/NU)






