Ilmuwan Muda Sumut Dapat Beasiswa Kapolri untuk Lanjutkan S2 di USU

LINTASCAKRAWALANEWS.COM, || MEDAN – Ilmuwan muda asal Sumatera Utara, Muhammad Ja’far Hasibuan, resmi dinyatakan lulus sebagai mahasiswa Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU). Kabar menggembirakan ini disertai dengan dukungan penuh dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang memberikan beasiswa pendidikan kepada Ja’far—yang juga dikenal sebagai anak angkat beliau.

Ja’far bukanlah nama asing di dunia sains. Ia adalah penemu Biofar SS, terapi herbal yang telah diakui dunia internasional dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat kurang mampu lintas negara. Di balik pencapaiannya, Ja’far menyimpan kisah perjuangan yang penuh liku dan inspiratif.

Bacaan Lainnya

“Setiap malam saya tahajud, minta sama Allah agar dimudahkan bisa lanjut S2 di Fakultas Kesehatan. Saya ingin jadi ilmuwan yang bermanfaat. Alhamdulillah, setelah dinyatakan lulus, saya dapat kabar dari Bapak Kapolri, saya dibantu beasiswa,” tutur Ja’far, Sabtu (2/8/2025).

Dari Kemiskinan Ekstrem Menuju Panggung Dunia

Perjalanan Ja’far bukanlah kisah sukses instan. Ia pernah hidup dalam kemiskinan ekstrem, menjajakan roti keliling dengan sepeda tua untuk membiayai kuliahnya. Ia sempat tidur di emperan toko, bahkan harus bertahan hidup hanya dengan air putih karena tak mampu membeli makanan.

“Kadang makan sekali dua hari. Kadang cuma minum air putih untuk tahan lapar. Tapi saya yakin, Tuhan tidak tidur,” kenangnya haru.

Semangat pantang menyerah membawanya mengembangkan Biofar SS, terapi herbal yang kini terus dikembangkan melalui Klinik Biofar SS di Simpang Empat Pasar Asri (Pajak Bengkok), Jalan Cempaka Sari, Marindal Satu, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang.

Klinik Gratis dan Pengabdian Tanpa Tarif

Meskipun telah diakui dunia, Ja’far memilih tetap membumi. Ia mendirikan klinik gratis yang melayani masyarakat tidak mampu, baik secara langsung maupun daring. Di kliniknya, tak ada biaya konsultasi maupun pengobatan. Semua diberikan cuma-cuma.

“Ilmu yang tidak dibagikan adalah ilmu yang mati. Saya ingin ilmu saya bermanfaat, bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk kehidupan,” ujar Ja’far, yang juga sedang meneliti terapi herbal untuk hewan ternak.

Dukungan Kapolri dan Misi Kemanusiaan

Ja’far mengakui peran besar Kapolri dalam mendukung langkahnya. Selain beasiswa, Kapolri telah membantu menyediakan alat laboratorium dan bahan penelitian sebanyak empat kali.

“Kalau bukan karena Pak Kapolri, mungkin saya sudah tidak bisa lanjut kuliah. Bahkan mungkin saya sudah berhenti jadi peneliti,” ungkapnya.

Bagi Ja’far, beasiswa dari Kapolri bukan sekadar bantuan finansial, tetapi bentuk kepercayaan negara terhadap anak bangsa yang berjuang dari bawah.

Terinspirasi Habibie, Menyalakan Harapan Anak Negeri

Dalam momentum peringatan HUT ke-80 RI, Ja’far mengenang sosok Presiden ke-3 RI BJ Habibie sebagai inspirasinya. Ia bahkan telah diundang bertemu Ilham Habibie, putra almarhum BJ Habibie, yang memuji prestasi dan pengabdiannya.

“Kalau Pak Habibie berkarya di bidang teknologi pesawat, saya ingin meneruskan di bidang kesehatan,” tuturnya.

Kini, dengan status mahasiswa magister, Ja’far terus melanjutkan misinya membumikan ilmu dan riset untuk masyarakat. Salat tahajud tetap menjadi rutinitasnya, karena ia yakin, doa dalam sunyi adalah pintu menuju perubahan.

“Jangan takut miskin, tapi takutlah kalau berhenti berdoa dan berhenti mencoba. Salat tahajud saya mungkin tidak langsung mengubah hidup saya. Tapi satu demi satu pintu terbuka. Dan salah satunya adalah beasiswa dari Bapak Kapolri,” pungkasnya. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *