Jero Mangku Dalang Samirana: Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

 

LINTASCAKRAWALANEWS.COM – Bali adalah pulau yang sangat sakral dan suci, asal kata dari Bali adalah wali, wali itu adalah yadnya yang suci, betapapun saktinya ratu se-Nusantara tidak bakalan bisa menghancurkan pulau Bali itu sendiri, sebab pulau Bali dibentengi Catur Lawa di barat ada Pura Silayukti, di selatan Pura Uluwatu, di timur Pura Andakasa di utara Pura Segara Rupek, yang bisa menghancurkan pulau Bali hanyalah orang Bali itu sendiri saat mereka lupa dengan kawitan dan mengabaikan warisan yang diberikan oleh leluhur kita terdahulu.

Jero Mangku Dalang Samirana ketika ditemui LintasCakrawalaNews di kediamannya Banjar Sengguan Kangin, Kelurahan Gianyar, Kecamatan/Kabupaten Gianyar Bali mengatakan, Se yang artinya perjalanan dan Tra yang artinya sama dengan tri atau khayangan tiga. Jadi setra artinya proses menuju pengembalian panca mahabhuta menuju nirwana.

Lanjut Jero Mangku Dalang Samirana menjelaskan, ngaben atau upacara pitra yadnya di rumah membutuhkan biaya besar menurut sebagian masyarakat, tentunya dalam menjalankan upacara tidak dilihat besar kecilnya yang dilihat, yang dilihat adalah keikhlasan. Upacara adat tingkatan yakni Nista, Madya dan Utama tergantung orang yang mana mau diambil, ketiga tingkatan upacara tersebut juga dibagi menjadi tiga Nistaning Nista, Nistaning Madya dan Nistaning Utama dan seterusnya.

“Kenapa masyarakat tidak mau melaksanakan upacara Nistaning Madya atau Madyaning Madya, semua itu sudah ada dan tersurat dalam Lontar Tapini sudah sangat jelas diuraikan,” jelas Mangku Dalang Samirana.

Besar kecilnya suatu upacara toh juga namanya yadnya, kalau di bahasa kawikan dalam Lontar Tapini menurut Mangku Dalang Samirana, agung alit ikang upakara ya tika yadnya juga kang kinarannya yang artinya tulusing yadnya apti widhi.

“Biar besar biar kecil yadnya tersebut toh itu juga namanya yadnya, yang dibutuhkan adalah ketulusan dalam melaksanakan upacara itu sendiri,” jelas Mangku Dalang Samirana.

Mangku Dalang Samirana mengatakan, saat ini yang dibutuhkan adalah ketegasan dari Prajuru desa adat masing – masing dan kesadaran masyarakat itu sendiri, disinilah peran MDA itu sendiri dalam menjaga tradisi adat dresta dan budaya Bali.

Mangku Dalang Samirana menegaskan, dalam proses melaksanakan yadnya itu sendiri dibutuhkan kebersamaan tidak bisa diambil sendiri – sendiri, dalam Sruti disebutkan Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang artinya betapapun besar suatu gawe atau pekerjaan dalam mengambil yadnya itu sendiri kalau kita sudah ambil secara bersama – sama dan didoakan bersama sudah pasti pekerjaan tersebut berjalan sesuai harapan yaitu kertha raharja.

Ketika disinggung konsep menyama braya, Mangku Dalang Samirana menjelaskan, konsep menyama braya adalah filosofi hidup bermasyarakat di Bali yang menghargai perbedaan dan menganggap orang lain sebagai keluarga, konsep ini bersumber dari adat istiadat dan nilai budaya Bali.

“Menyama braya merupakan perwujudan toleransi, mengandung makna persamaan, persaudaraan dan pengakuan sosial bahwa kita adalah bersaudara,” urai Mangku Dalang Samirana.

Mangku Dalang Samirana memaparkan menyama braya memiliki makna plural, yakni menghargai perbedaan dan menempatkan orang lain sebagai keluarga. Penerapan menyama braya diwujudkan kerjasama dalam setiap kegiatan ritual keagamaan.

“Menyama braya tercermin dalam berbagai kegiatan sehari – hari seperti membersihkan rumah, tempat ibadah dan lain sebagainya saat ini tantangan menyama braya mulai sedikit ditinggalkan oleh masyarakat Bali, karena perubahan zaman menjadi salah satu faktor penyebabnya,” kata Jero Mangku Dalang Samirana yang juga Pembina Sanggar Wayang Calonarang AWBP Sudhamala ini.

Jero Mangku Dalang Samirana mengatakan, Sanggar Wayang Calonarang AWBP Sudhamala ini menerima anak – anak generasi muda dan juga wisatawan mancanegara belajar menari Bali, seni tabuh dan juga belajar menarikan wayang atau ngewayang. “Kita sebagai masyarakat Bali, mari ajegkan adat istiadat, seni budaya dan dresta Bali warisan leluhur yang adiluhung ini,” pungkas Jero Mangku Dalang Samirana. @ (RED/NU)

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *